Sebuah buku, kadangkala lebih cepat dari penulisnya. Dan mungkin bukan kadangkala saja, tapi melulu. Selalu lebih dahulu, lebih cepat. Tampaknya begitu, kalau contohnya saya selaku penulis buku Berdiang di Perapian Buya Syafii dan sang buku.
Walaupun saya yang bercita-cita ke Calau suatu hari, berhayat, menghirup udara pegununganya, dan mungkin akan menulis puisi, ternyata buku saya malah telah tiba lebih dahulu di situ. Kejadian itu tanpa terencana, atau kalau pun ada yang berencana, rencana itu tidak melibatkan saya.
Pagi, kira-kira jam sembilan waktu Indonesia bagian Jawa, Pak Jamalus dari BPSDM propinsi Sumatra Barat menelepon ke nomor saya. Tentu ia tidak tahu kalau ia menelepon ke saya, karena Pak Jamalus pastilah mendapat nomor saya dari poster buku Berdiang di Perapian Buya Syafii (selanjutnya ditulis BdPS saja) yang dikikirim Asmul Khairi padanya. Dan tidak ada nama saya di poster itu, hanya nama Putra. Jadi diam-diam saya agak senyum senyum juga waktu ia menyapa "Pak Putra".
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi menerima buku Berdiang di Perapian Buya Syafii dari warga Calau Sumpur Kudus 29 Oktober 2021.
Pak Jamalus mengatakan, akan menunggu buku yang sudah ia pesan sampai jam 12 siang supaya dapat dinawa ke Sumpur Kudus. Saya agak kelabakan, karena buku baru dikirim tiga hari lalu. Perkiraan saya baru akan sampai di Padang dalam empat hari.
Buru buru saya periksa situs ekspedisi pengiriman yang saya gunakan untuk mengetahui status kiriman itu. Rupanya sudah sampai di pos kota Padang dan sedang dibawa kurir ke alamat tujuan. Seusai memeriksa status pengiriman, jam sudah berangkat ke pukul 11. Berarti ada kira-kira sejam lagi waktu menunggu Pak Jamalus sebelum ia berangkat ke Calau Sumpur Kudus. Buru-buru saya menelepon dan meyakinkannya kalau paket kiriman akan segera tiba dan sedang dibawa kurir. Walaupun saya sendiri agak meragu, was was juga andai andai pak kurir akan terlewat dari jam 12.
Namun rupanya buku itu sedang menjalankan takdirnya sendiri. Tak lama saat mengecek ulang status kiriman, disebut di situsnya kiriman sudah diterina di alamat tujuan. Legalah saya. Sangat khas perasaan yang timbul, kala membayangkan buku saya akan sampai ke Calau. Kampung tersuruk (istilah Buya Syafii), tanah nenek moyang dan tanah tempat lahir Buya Syafii. Sosok yang menginspirasi saya menulis buku itu.
Walaupun isinya bukan tentang Calau, namun terhubungnya buku itu dengan habitat asal inspiratornya, bagaimana pun dapat dipandang anugerah, dan mengandung kegaibannya sendiri. Sekurang-kurangnya buku itu melengkapi dirinya sendiri dan menguatkan posisinya sebagai teks yang memiliki kejadian, dan kemampuan untuk menunaikan takdirnya.
Pendek kata, ia minta diterima dan dibaca oleh subyek yang menginspirasi dan telah diulasnya. Calau adalah pintu yang tepat baginya mewujudkan takdir semacam itu.
Siapa menyangka, lewat warga Calau pula buku itu sampai dengan sentosa ke tangan Gubernur Sumbar Mahyeli yang sedang melakukan kunjungan ke kampung tersuruk itu.
Lewat lohor kepastian peristiwa pertemuan buku saya dengan warga Calau dan gubernur Sumbar itu saya ketahui. Buya Syafii mengirim foto Mahyeldi yang sedanf menerima buku itu kepada saya.
Tentu tidak ada beritanya di media. Tetapi itu tidaklah penting. Yang ljebih penting adalah buku itu telah mendahului penulisnya merasakan udara pegunungan Bukit Barisan Sumatra Tengah di Calau. Masih kita tunggu apa cerita buku ini selanjutnya.


Komentar
Posting Komentar
katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)