Berburu Demang Lebar Daun

Riki Dhamparan Putra 

di bukit siguntang – di puncaknya pernah kuciptakan bulan – bintang berburuan 

 (Ilham, Subagio Sastrowardojo, dalam Keroncong Motinggo,1975)

Kata hikayat, sejarah bermula dari bukit Si Guntang. Tak salah memang, jauh sebelum era bupati narkoba, negeri-negeri di wilayah Palembang dipimpin oleh para puyang. mungkin dari suku kata “pu” yang telah “hyang”. Kita artikan saja sebagai orang yang telah tercerahkan hati dan pikirannya. Maka dalam dongeng-dongeng, para puyang itu kadang-kadang digambarkan turun dari “kahyangan”. Betul juga, karena kahyangan pada hakikatnya adalah sebuah ide tentang pencerahan rohani. Dibaca dengan sudut pandang ilmu mistik, itu merupakan sebuah alam samawat (langit) yang di dalamnya terdapat sebuah luh (lauhul) yang menyimpan ketentuan dan ketetapan (qada dan qadar) nasib manusia.Tak terkecuali qada dan qadar pulau Sumatra yang pada suatu waktu dan tempat telah diberkahi dengan beberapa orang Datuk yang melegenda nama mereka.

Salah satunya, Demang Lebar Daun.
Amat mulia lah kedudukan beliau ini, sebagaimana tergambar dalam kitab Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) salinan encik A Samad Ahmad (Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 1978). Kitab itu aslinya adalah Hikayat Melayu yang diringkas dan disalin ulang oleh Tun Seri Lanang, hingga judulnya berubah menjadi Sulalatus Salatin.

Selesai disusun pada kiraan tahun 1613-1623 semasa Sultan Abdullah Ma'ayah Syah menjadi raja di Johor. Di dalamnya terdapat urai jurai atau silsilah raja-raja Melayu beserta peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kerajaan-kerajaan di seantero Melayu.
Mulai dari perjalanan raja Zul Karnain ke negeri Hindi (Hindustan) sampai kepada masa perang Melayu dengan orang Peringgi (Portugis). Walaupun terdapat beberapa perbedaan dengan hikayat-hikayat Melayu lainnya, namun para peneliti memandang, kitab ini telah merangkum keseluruhan hikayat dan tambo yang tersebar di negeri-negeri Melayu mengenai asal mula raja-raja Melayu.
Demang Lebar Daun sendiri, dikatakan dalam kitab ini hidup sezaman dengan Patih Suatang dari Minangkabau. Ia mendatui Palembang pada masa tiga orang cicit keturunan raja Zul Karnain pertama kali tiba di bukit Si Guntang .

Naskah memang menggunakan kata “raja Palembang” untuk menyebut Demang Lebar Daun, namun itu tidak bermakna ia seorang raja. Karena ternyata kemudian posisi Demang Lebar Daun dalam hikayat itu merajakan keturunan Zul Karnain itu di tempat kediamannya.

Dengan demikian, perkataan “Raja Demang Lebar Daun” lebih tepat diartikan sebagai orang yang mempunyai kekuasaan tanpa status raja.

Dalam kebudayaan Sumatra Pra Hindu, posisi itu dimiliki oleh datu-datu atau datuk-datuk. Di Minangkabau misalnya, para datuk mempunyai kekuasaan yang lebih tinggi dibanding raja yang datang kemudian. Dan apabila disimak lebih teliti, dari cara Sulalatus Salatin menggambarkan posisi dan peran yang diambil Demang Lebar Daun, kita segera tahu, bahwa ia hidup di masa transisi budaya terpenting tengah terjadi di pulau Sumatra. Yang dalam tulisan ini, transisi itu dibaca sebagai akibat pertemuan budaya asli dengan budaya baru dari Hindustan. Berkat Demang Lebar Daun,
pertemuan dua budaya itu akhirnya meluas ke daerah-daerah lain di Sumatra. Terdapat dua keistimewaan Demang Lebar Daun pada kitab ini.

Pertama, ia adalah datu yang pertama sekali memelihara keturunan Zul Karnain yang turun di bukit Si Guntang itu. Dua orang tokoh lain, Wan Empuk dan Wan Malini, hanya disebutkan sebagai pemilik huma walaupun mereka lah yang pertama sekali mengenal ketiga zuriat raja Zul Karnain itu. Artinya, mereka bukan orang yang mempunyai kekuasaan pada masa itu. Proses ketiga orang itu menjadi raja-raja di kepulauan Melayu, terjadi melalui peran serta Demang Lebar Daun. Keistimewaan kedua, tokoh ini dinyatakan sebagai orang pertama yang menggunakan sebutan “Yang dipertuan agung” bagi raja-raja Melayu.

Kisah bermula di bukit Si Guntang ketika suatu malam, bukit itu mendadak terang benderang. Segala padi di huma berubah menjadi emas hingga tanah pun berwarna keemas-emasan. Tatkala penghuni bukit itu, Wan Empuk dan Wan Malini mendatangi asal cahaya itu, mereka berjumpa tiga pemuda (satu perempuan) yang mahkota mereka telah menyebabkan tumbuhan berubah menjadi emas. Mereka menunggang seekor lembu putih yang seumpama perak terupam warnanya. Lengkap dengan senjata bernama curik Si Mandang Kini, Kayu Kerupa, pedang Badram Balawa dan lembing bernama Lembuara. Nama mereka Nila Pahlawan, Krisyna Pendita dan Nila Utama. Dari zuriat raja Zul Karnain melalui kakek mereka Raja Suran, penguasa kerajaan Keling, Hindustan.
Sejak kecil ketiga orang ini diasuh oleh Raja Aktab’ul-Ard penguasa dasar samudera yang merupakan kakek dari jalur ibu.

Singkat kisah, Wan Empuk dan Wan Malini memelihara ketiga cicit Zul Karnain itu hingga beritanya sampai kepada Demang Lebar Daun yang kemudian membawa mereka ke Palembang. Nila Pahlawan, lalu dinamai Sang Si Perba. Pada saat itu, lembu putih tunggangan mereka memuntahkan buih yang menjelma seorang laki-laki. Ia dinamai Batala, artinya orang yang membaca ciri (mantra pelantikan raja). Karena di saat menjelma itu ia membacakan sebait mantra. Syahdan, datanglah Patih Suatang dari Minangkabau meminta salah seorangnya. Sang Si Perba kemudian dirajakan di Minangkabau.

Konon, karena ia memagari istananya dengan ruyung-kayang, dinamailah kerajaannya Pagar-Ruyung. Sangat simbolik bagian ini, karena setelah Sang Si Perba dibawa ke Minangkabau, Krysna Pandita juga diminta oleh negeri Tanjung Pura untuk dirajakan di situ. Tinggal Nila Utama yang diam di Palembang.

Diceritakan pula, raja bergelar Seri Teri Buana telah berhasrat kepada putri Demang Lebar Daun hingga ia jatuh sakit karena memendam rindu dendam. Demang Lebar Daun akhirnya menikahkan putrinya yang bernama Radin Ratna Cendera Puri dengan raja Seri Teri Buana. Pernikahan ini kelihatan menjadi sangat penting karena dua dual. Pertama, karena dipersyarati dengan ikrar antara Demang Lebar Daun dan raja Seri Teri Buana.

Isinya antara lain, berupa sumpah untuk tidak boleh menistakan satu sama lain apabila terjadi silang sengketa: “jikalau raja Melayu itu mengubahkan perjanjian dengan Hamba Melayu, dibinasakan Allah negerinya dan takhta kerajaannya”.

Perjanjian itu berlaku atas semua keturunan Seri Teri Buana dan Demang Lebar Daun. Pada satu sisi, adanya ikrar ini memandu kita mengenali posisi yang setara antara Demang Lebar Daun dengan raja Seri Teri Buana. Bukan antara seorang penasehat dan raja, melainkan antara pemimpin dengan seorang raja.<\br>
Kedua, penting karena menjadi permulaan peran serta langsung Demang Lebar Daun memperluas kekuasaan Seri Teri Buana ke luar Palembang. Gambaran di atas, kiranya cukup untuk meyakinkan kita bahwa transisi budaya di Sumatra dimulai dengan proses politik melalui peran simbolik tokoh Demang Lebar Daun.

Kesimpulan ini berangkat dari penafsiran bahwa klaim sebagai turunan Zul Karnain yang ada dalam hikayat-hikayat Melayu, sesungguhnya menjadi kiasan dari adanya tatanan politik baru yang sedang berlangsung di Sumatra. Selain untuk mengiaskan kesakralan darah raja-raja tentu saja. Bukti-bukti dari lapangan arkeologi cukup mendukung penafsiran ini. Mengingat Palembang dan bukit Si Guntang, dengan bukti warisan-warisan artefak dari peradaban Hindustan yang dimilikinya, kenyataannya memang telah menjadi titik awal persebaran kekuasaan agama Siwa dan kemudian Budha yang datang dari India selatan.
>





Dalam hal ini, Hikayat Melayu menggambarkannya melalui eksistensi cucu penguasa Keling yang turun di bukit Si Guntang. Segi menariknya adalah karena Hikayat Melayu menggambarkan proses tersebut dipandu oleh kekuasaan lokal melalui Demang Lebar Daun. Selanjutnya, Palembang berkembang menjadi kerajaan Sriwijaya. Sementara pusat-pusat Siwa-Budha lainnya, seperti Minangkabau dan Jambi, secara spritual tetap mempunyai hubungan budaya yang sakral dan transenden sifatnya dengan bukit Si Guntang.



2016

Komentar