Hikayat Bambu Dan Genealogi Kebudayaan

Riki Dhamparan Putra

Di Indonesia yang sedang sekarat, bambu memang kalah pamor kalau dibanding Gayus Tambunan atau illegal logging. Bahkan bambu yang tua itu kalah seksi dari pesaing baru seperti kelapa sawit dan karet yang mampu menyedot perhatian pemerintah di bidang usaha perkebunan. Sementara bambu hanya dilirik sebagai program sekunder untuk mendukung industri kerajinan di beberapa tempat saja. Namun pencinta bambu usah kecewa, bambu Indonesia tetap istimewa di antara 200 spesies bambu yang ditemukan di Asia Tenggara.

Salah satu keunikan bambu Indonesia adalah tanaman ini tergolong jenis bambu simpodial yang batang-batangnya cenderung tumbuh mengumpul di dalam rumpun karena percabangan rhizomnya di dalam tanah cenderung mengumpul.

Jika diperhatikan, batang bambu yang lebih tua selalu berada di tengah rumpun, sehingga lebih susah ditebang. Dengan kata lain, tunas-tunas bambu seakan tumbuh untuk melindungi yang lebih tua. Dan biasanya pula orang enggan menebang bambu muda kan? Jadi bambu dapat tumbuh lebih rimbun melindungi tebing. Mungkin karena itulah, bambu menjadi simbol rasa hormat kepada leluhur, simbol kebersamaan dan kekuatan komunal dalam masyarakat kita semenjak dahulu kala.

Itulah bambu. Tanaman khas Asia yang ramah dan multiguna. Dan dalam banyak kebudayaan telah mendapat tempat yang sangat mulia karena cara perkembanganbiakannya yang unik. Tak kecuali dalam kebudayaan di Indonesia. Sejak lama bambu, dianggap sebagai tanaman kayangan, karena selain darinya diperoleh berbagai manfaat, bambu dan pola tumbuhnya juga merupakan buku alam yang sering dituangkan sebagai filosofi kemasyarakatan.

Jika orang Tiongkok bangga dengan perakataan Lao Tse “Hiduplah seperti rumpun bambu, walau lentur tak mudah ditumbangkan angin”, orang Minangkabau pun punya nasehat bambu yang penting: Sokong menyokong, bagai aur dengan tebing. Pula orang Sunda, menyanyi dengan angklung atau calong yang dibuat dari bambu, orang Bali merasakan sunyi siang hari dengan tingklik bambu yang digantung di tiang beranda, orang Payakumbuh melilit hati musafir dengan Saluang Sirompak berbahan buluh yang bersuara merdu memilukan, orang Maluku bisa membuat bambu menjadi gila, orang Batak, orang Bugis, semua suku di Indonesia mempunyai beragam pusaka dan kreatifitas yang terbuat dari bambu.

Khazanah kebudayaan berbahan bambu yang beratus-ratus itu sampai hari ini masih bisa kita nikmati dan bahkan telah dikreasi menjadi lebih kaya lagi. Selain berwujud materi seperti alat musik atau pun kerajinan, bambu juga menjelma kearifan tekstual melalui pepatah, pepadun dan wewarahan. Yang menarik dicermati, prinsip-prinsip filosofis yang mendasari berbagai karya dan resepsi budaya atas bambu itu tak jarang memiliki kesamaan antara satu daerah dengan daerah lain. Realitas itu sekaligus menjadi dasar yang memungkinkan kita untuk mengembangan asumsi dan opini, bahwa sebenarnya bambu adalah salah satu benang merah mempertemukan keanekaan imajinasi budaya Indonesia di dalam rumpun tafsir yang sama atas makna dan tujuan bermasyarakat. Inilah yang kita maksud genealogi pada judul tulisan ini.

Berdasarkan definisi harafiah, genealogi adalah ilmu tentang rantai silsilah keturunan. Penggunaan kata ini di ranah non biologi, pertama kali dimulai oleh filsuf Jerman, WF Nietzsche melalui bukunya yang terkenal “On the Genealogy of Morals”( dalam bahasa Indonesia telah diterjemahkan menjadi Genealogi Moral). Di bukunya itu Nietzsche mencoba melacak asal-usul ide-ide moralitas manusia melalui “kacamata terbalik”nya atas nilai ‘unegoistic’ (tidak egois), naluri rasa iba, pengorbanan-diri, dan penyerahan diri. Kesimpulan Nietzche nilai-nilai itu pada dasarnya “ancient” dan bersumber dari moralitas budak yang dapat melenyapkan “rasa penaklukan” dalam diri manusia modern. Sebagai gantinya ia menganjurkan sebuah “moralitas super” atau “moralitas manusia penakluk” untuk dikembangkan menjadi landasan hidup manusia modern.

Setelah Nietzsche menggunakan kosa genealogi ini di ranah filsafat, istilah genealogi mulai ramai digunakan dalam literatur sosial dan budaya. Tak terkecuali dalam studi sejarah dan sastra. Di jagad ilmu budaya Indonesia, misalnya, muncul istilah “genealogi mite” untuk melacak akar keterkaitan sebuah mite dengan mite yang lain. Nah, cara penggunaan kata genealogi yang sama, juga dilakukan pada tulisan ini dengan menjadikan hikayat –hikayat berkaitan dengan bambu sebagai rujukan. Di antaranya Hikayat Puteri Betong dalam Hikayat Pase dan Umpu Lima Putera Sakti dalam pepadun Lampung.

Alkisah, ketika Kerajaan Samudera-Pasai baru saja diteruka, Raja Muhammad berjumpa seorang putri di tengah sebuah hutang betung. Usut punya usut, dara cantik itu ternyata jelmaan seorang bidadari surga yang menitis dari seruas betung. Raja Muhammad mengangkatnya sebagai anak dan kelak dinikahkan dengan Meurah Gajah, keponakan Raja Muhammad.

Menurut versi Hikayat Aceh, Meurah Gajah agak malu mempunyai istri Putri Betung karena sang istri memiliki cacat tubuh. Dagu kanannya ditumbuhi sehelai rambut panjang berwarna putih. Pada suatu hari sang raja meminta agar istrinya mencabut rambut aneh di dagu itu. Tapi permintaan sang raja ini ditolak. Putri Betung beralasan, jika bulu itu dicabut, niscaya akan terjadi perceraian di antara mereka. Meurah Gajah yang tetap ingin rambut itu hilang dari dagu sang putri, diam-diam mengatur siasat. Bila Putri Betung tertidur sangat lelap, Meurah Gajah mencabut rambut itu dengan tangannya sendiri. Terjadilah keanehan yang luar biasa. Dari liang bekas cabutan rambut tersebut, mengalir tiga titik darah putih. Tak lama Putri Betung pun meninggal dunia.

Kejadian tersebut membuat Raja Muhammad, ayah angkat Putri Betung marah. Ia lalu mengirim pasukan menyerbu kerajaan Meurah Gajah yang juga bergelar Raja Muhammad Syah. Dalam pertempuran tersebut Raja Muhammad Syah terbunuh. Tentu saja, ayah Meurah Gajah, Raja Ahmad, tak dapat menerima kematian putranya itu. Terjadilah pertempuran antara Raja Ahmad dan Raja Muhammad. Keduanya tewas dan kerajaan Samudera-Pase musnah.

Perkawinan Putri Betung dengan Meurah Gajah melahirkan dua anak laki-laki. Yang pertama bernama Meurah Silu dan kedua Meurah Hanum. Meurah Silu disebut sebagai pendiri kerajaan Pase atau Pasai bergelar Sultan Malikus Saleh. Namun dalam versi Hikayat Raja-Raja Pasai, perkawinan itu melahirkan sepasang. Yakni Meurah Silu dan Putri Safiah. Kurang jelas mengapa perbedaan itu bisa muncul. Yang jelas, Meurah Silu yang setelah memeluk Islam bergelar Sultan Malikus Saleh diakui sebagai Moyang raja-raja Pase dan Aceh yang datang kemudian.

Cerita raja-raja Aceh terlahir dari rahim seorang putri yang terjelma dari buluh betung ini merupakan simbolisasi dari dua hal. Pertama, adanya “rahim supranatural” yang menurunkan raja-raja. Dikatakan demikian, karena Putri betung, meskipun terlahir dari seruas bambu adalah turunan bidadari kayangan. Sedang tentang cacat tubuh yang dimiliki Putri Betung merupakan bahasa simbolik dari belum sempurnanya sistem sosial dan budaya yang ada di masa hidupnya. Adalah lazim di dalam hikayat asal usul atau silsilah sebuah negeri, nenek moyang pertama digambarkan sebagai manusia yang cacat atau bahkan menyerupai makhluk pra manusia. Ini adalah suatu strategi bercerita yang berciri evolusionis dan telah menjadi model dalam hikayat atau tambo yang cenderung melihat masa lalu kurang sempurna. Sementara masa kini digambarkan lebih baik dari masa lalu.

Makna simbolik kedua adalah pohon bambu yang menjadi asal-usul Putri Betung. Sebagaimana kita ketahui, bambu menjadi pohon falsafah tentang perkembangbiakan, solidaritas kebersamaan dan kekuatan. Melalui kelahiran Putri Betung yang dari pohon bambu ini dapatlah kita tafsirkan bahwa kebudayaan Pasai dan Aceh sejak semula berlandaskan pada nilai – nilai itu. Kedatangan agama Islam yang mengusung agenda musyawarah mufakat kemudian turut memperkuat nilai – nilai komunalisme yang sudah ada sebelumnya. Bedanya mungkin, hikayat akan menceritakan kehadiran Islam ini lebih sempurna.

Kiranya tak hanya dalam Hikayat Pasai. Dalam banyak hikayat di daerah lain seperti di Lampung dan Maluku terdapat juga cerita yang sama. Dalam pepadun orang Lampung, ruas bambu diyakini telah mengirimkan leluhur kepada orang Tiuh Karangan. Sebuah kampung kecil di tepian Sungai Umpu, Way Kanan , Lampung. Diceritakan dalam pepadun, istri Jumpang Keling, kepala kampung Karanagn sedang mencuci di sungai. Ia melihat seruas bambu terapung bergerak melawan arus sungai. Ia pun memungut dan menyimpannya di rumah. Sejak itu konon rumah kepala kampung selalu diterangi cahaya. Pada suatu hari, orang kampung menemukan seorang bocah laki-laki tak dikenal yang kulitnya berpenyakit sedang mencuri padi. Merasa terpergok si bocah melemparkan padi yang digenggamnya. Ajaib, butir-butir padi itu berubah menjadi ratusan harimau yang siap menerkam. Jumpang Keling, sang kepala kampung berhasil mengalahkannya lalu mengetahui kalau si bocah tersebut adalah titisan Umpu Diwa Sebiji Nyata – Radin Jambat yang lahir dari ruas bambu yang disimpan kepala kampung. Umpu Diwa Sebiji Nyata ini kelak bernama Umpu Putera Lima Sakti, dipercaya sebagi penjaga keselamatan negeri negeri di sekitar sungai Way Kanan dan dianggap leluhur orang Karangan.

Terdapat esensi yang sama dalam cerita Aceh dan Way Kanan di atas. Yakni adanya tokoh mitologis yang terlahir dari bambu dan dipercaya sebagai nenek moyang yang menurunkan raja-raja. Selain esensi, hal ini juga menjelaskan kepada kita adanya kesamaan strategi bercerita dalam kedua hikayat tersebut. Dan kesamaan itu menjadikan bambu sebagai simbol terpenting. Akibatnya, melalui cerita ini, kita dapat menyimpulkan adanya suatu moralitas umum yang melandasi perkembangan kebudayaan – kebudayaan masyarakat suku Indonesia yang beragam – ragam. Moralitas bambu, inilah genesis kebudayaan kita yang perlu dibaca kembali hari ini. Khususnya, makna perkembangbiakan, kekuatan kebersamaan dan kelenturan dalam berinteraksi satu sama lain. Selamat menaruh sesaji di bawah pohon bambu!

Komentar

  1. apakah Umpu Diwa Sebiji Nyata, Umpu Putera Lima Sakti memiliki hubungan dengan puyang sibalakuang yang merupakan legenda didaerah muaradua oku selatan, sumsel?

    BalasHapus

Posting Komentar

katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)