Kunang-kunang Yang Terbakar

cerpen riki dhamparan putra

Tentu saja, karena dia kunang-kunang, lelaki itu hanya keluar bila hari sudah malam. Tubuhnya menyala dan sayapnya yang halus itu mengepak lemah. Terangguk-angguk seperti lampu gantung yang diayun angin kencang. Kadang seperti hendak jatuh, tapi dia tak pernah padam. Dan satu dua orang pejalan yang sempat melihatnya, tergerak juga mengikuti arah lelaki itu. Mereka adalah dua orang narapidana yang tengah melarikan diri dari penjara kota.

“Tak ada petunjuk. Lebih baik kita mengikuti kunang-kunang itu. Siapa tau kita akan sampai di suatu tempat,..” Kata salah seorang pada temannya. Mereka pun mengikuti kunang-kunang yang menghilang di balik tembok sebuah gang.

Gang itu ternyata begitu panjang dan sempit. Namun kedua pelarian itu terus mengikuti kunang-kunang itu hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang jauh lebih gelap dari tempat mereka mula berangkat. Satu sama lain saling memegang tangan agar tidak saling kehilangan. Maklumlah, gelap. Tak ada yang bisa dilihat dalam gelap. Kedua pejalan itu hanya bisa merasakan hembusan nafas mereka satu sama lain. Bahkan bola mata merekapun tak kelihatan. Kebetulan pula mereka mengenakan pakaian berwarna gelap.

“Tempat apa ini?” bertanya pelarian itu pada teman di sebelahnya.

“Mana kita tau. Tak ada yang bisa dilihat di sini. Semua serba hitam”

“Aku jadi takut”

“Kalau mau takut, kenapa tidak dari tadi?”

“Kamu yang mengusulkan agar kita ikut kunang-kunang itu”

“Tapi kamu kan mau”

“Sudahlah. Jangan bertengkar. Tapi mana kunang-kunang itu?”

“Tadi dia ke sana”

“Kemana?”

“Ke sana! Kamu lihat telunjukku tidak?”

“Brengsek. Aku tak lihat apa pun. Apa kamu bisa lihat telunjukmu sendiri?"

“Nggak juga. Tapi aku kan merasa”

Mereka terus ribut seperti dua anak kecil sedang menebak teka-teki. Suara mereka rupanya telah membangunkan seorang gelandangan yang tidur di bawah lipatan kardus di emperan yang tak jauh dari tempat kedua pelarian itu berada. Gelandangan itu mencoba mendekati mereka dengan menajamkan perasaan dan pendengarannya untuk mencari tahu posisi kedua pelarian itu. Namun percuma. Perasaannya seperti jadi tumpul oleh gelap yang pekat, apalagi perutnya melilit lapar. Maka satu-satunya jalan adalah menyapa kedua pelarian dengan suara setengah berteriak.

“Siapa di sana?” seru gelandangan itu.

“Kami. Anda siapa?” jawab pelarian yang lebih muda.

“Apakah kalian membawa makanan?”

“Sst. Tampaknya dia melihat kita. Dia tau kalau kita berdua” berkata pelarian yang lebih tua pada teman di sebelahnya.

“Tentu saja tau. Kau ini memang tolol,”

“Apakah kalian membawa makanan?” kembali gelandangan itu berseru.

“Apa kamu lapar?”

“Sangat lapar. Saya tak punya apa-apa. Tolonglah saya,” Kata Gelandangan itu lagi. Kini suaranya sedikit lebih lemah. Kedua pelarian itu merasa kasihan. Mereka menyuruh gelandangan itu mendekat ke arah mereka.“Kemarilah. Kami masih memiliki makanan!” Kata pelarian yang lebih tua.

Gelandangan itu mendekat terseok-seok. Rupanya dia tidak memiliki kaki, hingga harus menggunakan kedua tangannya untuk berjalan. Dan dalam gelap itu dia tidak melihat lubang di depannya. Dia terperosok dan mulutnya terbentur sisi lubang yang keras. Gelandangan itu mengaduh kesakitan. Kedua pelarian yang merasakan kalau gelandangan itu tidak jauh, segera meraba-raba ke arah tempat gelandangan itu terjatuh. Kedua pelarian yang melihatnya segera menolong gelandangan itu.

“Ya,Tuhan. Pelipisnya berdarah,..” Pelarian yang lebih muda segera merobek ujung bajunya untuk mengusap darah yang terus mengucur membasahi wajah si gelandangan. Ia terus meringis kesakitan.

“Lapar, saya lapar,..”

Pelarian yang lebih muda itu lalu memberikan sepotong roti yang masih tersisa pada gelandangan tersebut. Mereka pikir si gelandangan tentu akan memakannya dengan lahap. Tapi gelandangan tak berkaki itu justru memuntahkannya sambil berteriak.

“Hei, kenapa kamu muntahkan makanannya?” tanya pelarian yang lebih tua.

“Sakit. Mulutku sakit,” teriaknya dengan lemah. Kedua pelarian itu benar-benar kehilangan akal.

Mereka tidak tau harus melakukan apa untuk menolong gelandangan itu Sebelah pakaian pelarian yang lebih muda sudah habis disobek untuk mengusap darah yang terus mengucur dari pelipis si gelandangan. Sekarang ia mengeluh mulutnya sakit. Apakah giginya patah?

“Bagaimana ini?” Bertanya pelarian yang lebih muda pada pelarian yang lain.

“Aku juga tidak tau harus berbuat apa,”

“Cobalah minta tolong seseorang,”

“Minta tolong? Pada siapa? Tak ada orang lagi di sini,..”

“Berteriaklah keras. Siapa tau ada yang mendengar,..”

“Kamu saja!”

“Kamu saja!”

Mereka berdua lalu berteriak sekeras yang mereka bisa. Tapi tak ada yang datang. Aneh sekali, tempat itu seperti tak berpenghuni. Padahal mereka bisa merasakan kalau di sekitarnya ada banyak bangunan yang megah. Yang jendela dan pintunya tertutup rapat dalam gelap itu, yang biaya pagarnya saja cukup untuk makan sebulan dua ratus orang gelandangan. Belum lagi jenis bunga dan pohon-pohonnya, makanan anjingnya,.. Tapi kemana mereka malam ini? Jangankan suara manusia, suara lolongan anjing pun tak terdengar. Kedua pelarian itu mulai putus asa. Sebab si gelandangan semakin lemas, nafasnya mulai satu-satu, setengah-setengah dan Tuhannya memanggilnya.

“Kita tak mungkin meninggalkannya di sini” Kata pelarian yang lebih muda. Ia merasa jerih dalam gelap itu.

“Tapi kita juga tak mungkin membawanya”

“Kalau begitu berdoalah untuknya”

Mereka lalu berdoa dengan perasaan haru untuk sahabat baru yang telah mati itu. Dalam hati mereka meminta Tuhan untuk mengurus jasad gelandangan itu baik-baik , memberinya makan di surga, dan tidak menelantarkannya seperti ketika dia hidup. Dan janganlah ada gelandangan lagi,Amin!

Masih saja begitu gelap. Kedua pelarian meletakan jasad gelandangan yang telah mati di tanah (mereka tau mereka telah meletakkannya di atas tanah, karena mereka telah merabanya dan terasa dingin). Lalu mereka kembali saling memegang tangan satu sama lain dan bergerak menyamping agar tidak melangkahi mayat gelandangan itu. Mereka meninggalkannya, sementara kunang-kunang yang tadi mereka ikuti tak juga kelihatan. Sedang gelap seperti tak habis-habis.

“Berdoalah!”

“Berdoa apa lagi? Bukankah tadi kita sudah mendoakan gelandangan itu?”

“Berdoalah untuk kita. Agar gelap lebih cepat dan kita bisa tau sedang di mana kita kini. Setidaknya berdoalah agar ada seekor kunang-kunang”

“Takut,ya”

Tapi pelarian yang lebih tua sudah tak ingin berbantahan atau bertele-tele. Dia tidak meraba-raba lagi, tapi bersimpuh di atas kedua lututnya. Dagunya dia turunkan dan matanya dia pejamkan. Melihat itu, pelarian yang lebih muda merasa tak punya pilihan lain. Ia pun bersimpuh di tanah dan memejamkan mata.

Tapi ia tidaklah berdoa. Ingatannya dipenuhi bayangan lampu-lampu indah di kolam rumahnya, lampu-lampu kota yang gemerlap, warna lipstik penari, kembang api, semuanya…Mengapa semuanya jadi menghilang. Tiba-tiba ia terisak.

“Hei, kamu menangis?” bertanya pelarian yang lebih tua.

“Saya ingat Duning,” (masih terisak)

“Kenapa? Cintamu pernah ditolak?”

“Bukan. Tapi dia pernah meminta tolong pada saya untuk menyalakan bola lampu di kamarnya. Tapi saya tidak melakukannya. Saya lebih suka gelap ketika itu,”

“Kok bisa?”

“Karena saya ingin memegang dadanya diam-diam”

Pelarian yang lebih tua mau tertawa sebenarnya. Tapi dia tahan, karena temannya itu isaknya tambah keras. Iapun menjadi heran.

“Hanya karena itu kau menangis sekarang? Betapa tololnya,”

“Tapi karena itu juga dia mati,”

“Mati kenapa?”

“Kami keasyikan. Tanpa sengaja dia mendorong tabung gas dengan tumitnya. Karena tak tau kalau itu tabung gas, ia mencari korek api dan menyalakannya…”

“Tabung itu meledak?”

Pelarian yang lebih muda itu tidak menjawab lagi. Ia menangis tergugu-gugu.

***

Mereka terus berjalan dalam gelap yang tak pernah habis itu. Terporosok di lubang-lubang dan bangkit lagi. Tubuh mereka sudah penuh luka sebenarnya. Tapi mereka terus berjalan karena harus menemukan suatu tempat yang ada cahayanya. Tapi mengapa gelap selalu terasa panjang? Mereka terus berjalan dan baru terhenti ketika keduanya tak bisa lagi menggerakkan kaki serta anggota tubuhnya.

“Mungkin kita akan mati”

“Ya, kita akan mati…”

“Tapi kita tetap harus berpegangan. Kemarilah, lebih dekat..”

Pelarian yang lebih muda itu mengumpulkan seluruh sisa tenaganya agar tetap dengan sahabat perjalanannya. Ia ingin mati dengan lebih hangat. Saat itulah kunang-kunang yang mereka cari muncul ke dekat mereka. Kedua pelarian itu memandangnya dan mencoba tersenyum pada kunang-kunang itu.

”Kamu terlambat” Bisik kedua pelarian itu dalam hati masing-masing. Kunang-kunang itu terus mengitari mereka. Dalam gelap itu ia seperti matahari yang sangat bercahaya. Tapi kedua pelarian itu tak akan bisa lagi menikmatinya. Mereka telah mati.

Kunang-kunang itu terus mengitari mereka seperti hendak membagi seluruh cahaya yang ia miliki pada jasad kedua pelarian itu. Tapi mereka telah mati. Kunang-kunang itu menangis dan bertekad untuk menemani jasad kedua pelarian itu selamanya. Tapi itu tak mungkin. Sebentar lagi akan fajar, hari akan pagi. Dan tentu saja tak ada yang memerlukan seekor kunang-kunang pun lagi. Orang-orang akan datang, orang-orang tak akan melihat kunang-kunang dalam terang. Ah, kunang-kunang itu jadi begitu benci pada pagi yang akan datang.

-
Denpasar, 2003

dimuat di koran Sinar Harapan, 2003

Komentar